Artikel

Sudahkah kita Merdeka?

Di dalam buku Capita Selecta 2 karya M Natsir, diungkapkan bahwa “Bangsa Indonesia merupakan suatu beton yang telah bersatu-padu. Batu dan pasir, semen dan kapas sebagai bagian-bagiannya tak pernah lagi kelihatan. Bersatu padu dalam satu tekad. Tidak ada perbedaan pendirian, ideologi, yang kelihatan. Tak ada perselisihan paham antara kaum desa dan kota, antara kaum pergerakan dan pegawai, antara golongan kiri dan kanan. Semuanya bersatu padu dalam satu ideologi negara, ialah merebut kemerdekaan dari tangan pendjadjah.”

Tahun ini Indonesia menapaki momentum perayaan 71 tahun kemerdekaannya. Ibarat manusia usia kemerdekaan negri ini seharusnya telah memasuki fase yang matang. Namun, semangat yang digelorakan para pejuang kemerdekaan mulai memudar dengan melempemnya semangat juang masyarakat indonesia.

‘Egoisme, terserah gue, emang gue pikirin, serba pamrih’ dan beragam penyakit kejiwaan lainnya menggejala dikalangan kita, sebagai penerus bangsa. Secara sederhana sebut sajalah para pengendara sepeda motor yang saling serobot, dan memakai trotoar pejalan kaki. Contoh lain, kita sebagai pelajar terutama santri, yang seharusnya menjadi calon pondasi negara ini malah bermalas-malasan, banyak membuang waktu, melanggar peraturan, dan melakukan halhal yang tidak berfaedah. “Akan tetapi, apakah yang kita lihat sebenarnya? Masyarakat, apabila dilihat dari raut wajahnya, tidaklah terlalu berseriseri seolah menikmati kemerdekaan yang telah dimilikinya ini, sedikit sekali faedahnya. Tidak seimbang tampaknya laba yang diperoleh dengan sambutan yang diperoleh.” Tutur M.Nasir didalam bukunya Capita Selecta 2. Lantas dengan segala kekurangan ini, apakah kita memang benar-benar sudah merdeka?

Inilah tantangan yang masih menghadang bangsa ini pada saat usia kemerdekaannya ke 71 tahun. Kita boleh saja tersenyum bahagia karena tak lagi terjajah secara fisik seperti masa lalu. Tapi kita harus sadar diri bahwa bangsa ini masih belum mampu menjadi bangsa yang berdaulat atas kemampuan dirinya sendiri. Perjuangan untuk kemerdekaan ini belum selesai. Pesta 17-an yang digelar setiap tahun sejatinya bukannlah pengisi kemerdekaan. Camkanlah “Sebagai penerus bangsa, berpijaklah diatas kebenaran, beranilah mengucurkan keringat, hadaplah lapangan perjuangan yang masih terbengkalai.” Torehkan banyak prestasi di negri seribu pulau ini, Indonesia. Beri semangat kepada para ilmuwan dan pakar teknologi bereputasi dunia.Dorong terus usaha rakyat kecil, beri pemuda kita ruang gerak untuk berkarya cipta. Hargai aksi prestasi dari segala komponen anak bangsa.

Wujudkanlah cita dan cinta para leluhur kita yang telah rela mengorbankan segalanya demi kemerdekaan ini. Salam dirgahayu indonesia! Saatnya kita membuat perubahan.

Pondok Pesantren Fathan Mubina

Pondok Pesantren Fathan Mubina